_______
_______◇◇◇◇◇◇◇
Seperti musim yang kering lalu gugur dihalaman pikiranku sendiri, setiap senyum yang kupunguti disenja pagi hampir tak dapat membuatku berfikir jernih hari ini. Tidak, ini bukan keputusanmu bukan inginmu setelah beberapa jarak dapat kita kalahkan.
_______◇◇◇◇◇◇◇
Seperti musim yang kering lalu gugur dihalaman pikiranku sendiri, setiap senyum yang kupunguti disenja pagi hampir tak dapat membuatku berfikir jernih hari ini. Tidak, ini bukan keputusanmu bukan inginmu setelah beberapa jarak dapat kita kalahkan.
Terlalu jauh kau menarikku dalam hidupmu hingga dapat kupastikan untuk kembali pun aku sudah tidak bisa. Tak akan pernah bisa. Menangis pun rasanya percuma, untuk apa hujan kembali menetes setelah air mata berkata kecewa ? tak ada yang perlu disesali dibagian ini hanya fase dimana kita harus belajar bertahan tanpa alasan. Jika kamu meninggalkanku tanpa karena maka disana aku tetap menunggumu juga tanpa karena.
Atau harus kuingatkan kembali tentang manisnya janji yang masih basah dalam kepala ? itu bukan caraku memintamu kembali mencintaiku atau menuduhmu tidak setia akan janji. Ini derita yang benar-benar nyata setelah dihempas terbuang jauh sendiri.
Sekali lagi aku memintamu untuk tidak bisu didiam kata yang maknanya tak dapat aku jamah selengkap jemari puisi tentangmu, hati ini tak sanggup hidup dalam hancurnya rindu bersama kepingannya. Menolehlah ... ! siapa yang kau lihat dibinar matamu ? karna yang kuharap engkau menuntunku pulang tanpa sekian rasa yang terjerat tinggal dikota sana.
Ini bukan kecewa yang ingin kusampaikan melalui memarnya cerita diantara kita tapi tentang ulasan hasrat yang pernah kita ikat mengalahkan langit beberapa inci.
Selayaknya awan dilangit, aku selalu memandangmu dari jauh seraya berdoa agar tidak pernah kehilangan dirimu. Karna selain menunggu kau pernah menitip rindu yang kujaga tanpa jeda waktu. Kini puisiku tumbang setelah benar-benar terjatuh dalam kata maafmu, sudah tak bisa bangkit lagi apa lagi putar haluan.
Sangat menyedihkan ketika aku yang meminta hatimu berjanji merawatnya namun kau lepas begitu saja lalu berkata kalah dalam perjuangan ini bahkan jauh sebelum perjuangan sebenarnya.
Segala bayangmu, mengiris memang tanpa kusadari aku telah jauh terbuang.
Tak dapat kupungkiri, bukan kamu yang kalah tapi kamu yang memenangkan cerita setelah berhasil kau hempaskan impian besarku. Secepat itukah kau lupakan ? atau memang tak pernah engkau katakan. Ea, kamu benar. Hanya kamu yang bisa membuatku mengerti betapa sakitnya kau lepas tangan ini, betapa terpuruknya aku setelah jeda yang kau minta. Lalu, apa lagi yang harus aku sampaikan selain deretan air mata yang mengalir tanpa basah dan ucapan tanpa suara, diam dalam bahasa tubuhmu dan hilang dalam ingatanmu.
Seringkali kunikmati hujan rindumu tapi aku lupa bahwa ia membawa guntur serta memendung dihatinya, menyuruhku diam agar menikmati genangan-genangan kenangan yang gunung pun tak dapat ku lukis hanya dengan air mata. Beberapa ruas jalan dalam pikiranku seketika harus kuhentikan menunggu hujanmu hilang membawa mendungnya dan getirnya ketakukan.
Terima kasih untuk luka ini, entah bagaimana aku akan berkata pada Tuhan agar menghapus air mata ini atau memintamu kembali. Aku tidak akan pernah berfikir untuk melupakan sebentar mungkin tentangmu, apa yang kau berikan hari ini dan segala yang kudapatkan setelah ini. Berjanjilah, akan menjadi sahabat terbaik yang pernah aku cintai dan aku akan berjanji akan sembuh dari luka ini setelah kau bahagia disofa pengantinmu lalu belajar berbahagia seperti caramu meski harus membawa cinta ini jauh bersama mimpi yang pernah ku amini.
Setelah ini, aku masih disini. Setelah engkau pergi atau Tuhan mengirimmu kembali.
Surabaya, 2016
Merelakan adalah kunci terbaik disaat smw tak sesuai dgn harapan.
BalasHapusLekas bangun dari keterpurukan. Ap yang kau harapkan dr kisahmu yg telah usai.
kalau kau masih memilih yg lalu, bagaimana dgn masa depan lebih baik-mu.
Semangat adikku.